1. Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan!
Rekayasa perangkat lunak merupakan bagian dari rekayasa sistem informasi. Pengembangan Sistem Informasi memiliki fase-fase yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional diantaranya adalah
(1) Fase Definisi yang terdiri dari Analisis Kelayakan dan Pendefinisian permintaan/kebutuhan;
(2) Fase Konstruksi yaitu Desain Sistem, Pembuatan Sistem dan Pengujian Sistem;
(3) Fase Implementasi yaitu Pemasangan/instalasi, Operasional dan
Pemeliharaan/Maintenance.
Adapun Analisis dan Perancangan Sistem terdiri dari Survei Sistem, Analisis terstruktur, Identifikasi Masalah, Presentasi Awal, Desain Konseptual, Desain Fisik, Desain detail input/output, Pembuatan Buku Manual; setelah itu adalah Implementasi kemudian Evaluasi Sistem dan Dokumentasi. Proses tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :
Sedangkan rekayasa perangkat lunak dimulai atau terdiri dari analisa, perancangan dan implementasi yang juga merupakan bagian dari rekayasa sistem informasi. Maka diantara rekayasa sistem informasi serta rekayasa perangkat lunak memiliki keterkaitan satu sama lain. Namun terdapat perbedaan diantara rekayasa sistem informasi dan rekayasa perangkat lunak yaitu pada rekayasa perangkat lunak tidak terdapat pengembangan sistem informasi (PSI) dimana dapat menimbulkan ketidaksesuaian dari pengembang dan keinginan dari pengguna.
2. Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan/konversi dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi! Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkonversian sistem, dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi. Jelaskan !
Fenomena bahwa pengalihan sistem informasi dari sistem yang lama ke sistem yang baru dapat berakibat fatal, tarjadi disebabkan oleh:
a) Tidak terjalin komunikasi yang baik antara vendor (pengembang) dengan perusahaan sebagai pengguna sistem informasi.
Komunikasi yang tidak baik/lancar antara vendor (pengembang) dengan perusahaan sebagai pengguna sistem informasi berakibat pada sistem yang dihasilkan tidak sesuai/mendukung kebutuhan dari perusahaan tersebut. Hal ini biasanya terjadi karena perusahaan memberikan tanggung jawab secara penuh kepada pengembang/konsultan untuk membangun sistem di perusahaan tersebut. Namun hal ini salah, karena pengembang/konsultan hanya mengerti cara bagaimana menghasilkan sistem informasi baru, tetapi pengembang tidak memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Untuk menghindari kesalahan ini, maka pihak perusahaan harus membantu pihak pengembang/konsultan dalam menjelaskan (berkomunikasi) kebutuhan-kebutuhan, kondisi, tujuan yang akan dicapai perusahaan (visi, misi dan tujuan) sehingga tidak terjadi mis-link antara sistem baru yang diciptakan dengan kebutuhan-kebutuhan sistem informasi di perusahaan tersebut.
b) Sumberdaya Manusia (SDM) di perusahaan tersebut tidak siap dalam menerima sistem baru.
Kendala Sumber daya manusia (SDM) di perusahaan dapat berupa :
Sumber daya manusia (SDM) di perusahaan sulit untuk dapat mengubah pola kebiasaan dan kebudayaan di perusahaan. Sehingga, seringkali SDM sulit untuk menyesuaikan diri. Untuk menghadapi persoalan ini, perusahaan memberikan pengertian kepada karyawan/SDM pentingnya penerapan sistem informasi baru ini, untuk menunjang kemajuan dari perusahaan tersebut.
Sumber Daya manusia (SDM) diperusahaan belum dapat beradaptasi berupa adaptasi teknikal (skill, kompetensi, proses kerja). Dimana kemampuan/skill, kompetensi dari karyawan/SDM perusahaan belum mampu untuk menjalankan/mengoperasikan sistem informasi baru yang diterapkan. Untuk mengantisipasi kendala ini, perusahaan harus melakukan pelatihan-pelatihan mengenai pengoperasian kepada karyawannya untuk dapat mempergunakan sistem informasi baru tersebut.
Keengganan dari karyawan untuk menjadi end user (Bidang pengolahan Informasi) di perusahaan disebabkan oleh sulitnya jenjang karier bila berada di bidang pengolahan informasi tersebut. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan harus melihat bidang pengolahan informasi/SI merupakan bidang yang penting dan perlu diperhatikan janjang karier yang jelas di bidang ini.
c) Perusahaan salah mengeluarkan kebijakan dalam pengalihan suatu sistem lama ke sistem baru.
Kesalahan kebijakan perusahaan dalam pengalihan suatu sistem lama kesistem baru :
Kurangnya dukungan dari manajemen eksekutif di perusahaan tersebut. Sebagian besar jajaran direksi suatu perusahaan tidak mau tahu mengenai penerapan TI di perusahaannya dan menyerahkan sepenuhnya pada ahli TI. Padahal, implementasi TI di perusahaan tidak hanya berhubungan dengan teknologi saja, namun juga berkaitan erat dengan bisnis perusahaan
Harapan yang tidak realistis dari manajemen perusahaan, sehingga untuk memenuhinya, semua sistem diterapkan tanpa menyesuaikan terlebih dahulu dengan kondisi dan keadaan perusahaan.
Kurangnya sosialisasi kepada karyawan mengenai penerapan sistem informasi baru pada perusahaan tersebut, sehingga penggunaan dari sistem tersebut tidak berjalan optimal.
Perubahan sistem informasi pada perusahaan hanya mengikuti perkembangan sistem informasi yang berkembang tanpa melihat kesesuaian kebutuhan dari perusahaan tersebut.
Investasi yang dikeluarkan/dikucurkan perusahaan hanya untuk mebuat suatu sistem baru saja tanpa menginvestasikan biaya-biaya untuk menunjang keberlangsungan sistem tersebut (seperti; biaya-biaya pelatihan karyawan, biaya pemeliharaan sistem dan biaya perbaikan sistem)
Perusahaan kurang matang dalam melakukan perencanaan dan menentukan arah, sehingga penggunaan Teknologi Informasi di perusahaannya tidak berjalan dengan baik dan tidak sesuai dengan standar yang berlaku
Konversi merupakan tahapan yang digunakan untuk mengoperasikan sistem baru dalam rangka menggantikan sistem yang lama. Menurut O’Brien (2005) terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan untuk melakukan konversi, yaitu konversi paralel, konversi langsung, konversi modular atau bertahap, dan konversi pilot seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut :
Konversi paralel (parallel conversion) : Sistem baru dan sistem lama sama-sama dijalankan. Setelah melalui masa tertentu, jika sistem baru telah bisa diterima untuk menggantikan sistem lama, maka sistem lama segera dihentikan
Konversi langsung (direct conversion atau direct cutover) : Konversi ini dilakukan dengan cara menghentikan sistem lama dan menggantikannya dengan sistem baru
Konversi pilot (pilot conversion) : Pendekatan ini dilakukan dengan cara menerapkan sistem baru hanya pada lokasi tertentu yang diperlakukan sebagai pelopor. Jika konversi ini dianggap berhasil, maka akan diperluas ke tempat-tempat yang lain
Konversi modular atau bertahap (phased conversion) : Konversi dilakukan dengan menggantikan suatu bagian dari sistem lama dengan sistem baru. Jika terjadi sesuatu, bagian yang baru tersebut akan diganti kembali dengan yang lama. Jika tak terjadi masalah, modul-modul baru akan dipasangkan lagi untuk mengganti modul-modul lama yang lain. Dengan pendekatan seperti ini, akhirnya semua sistem lama akan tergantikan oleh sistem baru. Cara seperti ini lebih aman daripada konversi langsung.
Kesalahan konversi dari suatu sistem informasi lama ke sistem informasi yang baru dapat berakibat fatal pada organisasi dikarenakan :
• Sistem teknologi informasi yang baru telah terinstalasi namun organisasi tidak menyesuaikan diri maka tidak terjadi adanya perubahan sehingga menyebabkan menonaktifkan teknologi informasi atau sistemnya menjadi tidak efektik akibat strateginya tidak terdukung.
• Proyek pengalihan sistem informasi yang baru tidak memiliki arah dan tahapan yang baik.
• Tidak terjalinnya komunikasi yang baik antar vendor dengan perusahaan atau client sehingga penerapan TI pada perusahaan tidak bermanfaat karena tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang bersangkutan.
• Investasi TI telah dilakukan, namun belum dilakukan investasi pada sumber daya manusia sehingga belum siap dalam memanfaatkan produk TI yang dimiliki perusahaan.
• Pengalihan sistem informasi yang dilakukan cenderung hanya mengikuti perkembangan teknologi dan kurang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
• Tingkat kesiapan perusahaan terhadap teknik informatika masih rendah.
• Dapat terjadi sikap saling menyalahkan di dalam organisasi, dimana manajemen puncak menyatakan tanggung jawab berada pada pihak bawahan, konsultan, vendor bahkan produk TI itu sendiri akibat dari masa transisi menjalani adaptasi teknikal, kultural, dan politikal dalam perusahaan.
Untuk mencegah supaya kesalahan besar dalam konversi sistem informasi, maka yang perlu dilakukan adalah:
• Berpegang pada visi yang ingin di bangun, mempelajari implementasi yang belum maksimal dan melatih sumber daya manusia agar dapat mengoptimalkan peranti yang sudah dibeli. Hal ini hanya akan mungkin untuk dilaksanakan apabila pimpinan perusahaan paham tentang TI atau minimal mengetahui sedikit tentang TI, sehingga paham apa yang ingin dicapai perusahaannya dengan mengaplikasikan TI ini.
• Perlu adanya sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama secara terintegrasi diantara subsistem-subsistem ini. Asumsi hanya akan tercapai apabila para perancang sistem ini mengetahui masalah-masalah informasi apa yang ada di perusahaan dan yang harus segera di selesaikan. Biasanya para perancang sistem ini akan mulai pada tingkat perusahaan, selanjutnya turun ke tingkat-tingkat sistem.
• Adanya rasa takut di pihak pegawai maupun manajer akibat penerapan sistem informasi yang baru. Sehingga dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan proyek pengembangan dan sistem operasional. Manajemen perusahaan, dibantu oleh spesialis informasi, dapat mengurangi ketakutan ini dan dampaknya yang merugikan dengan mengambil empat langkah berikut :
Membiasakan penggunaan teknologi komputer sebagai suatu cara mencapai peningkatan pekerjaan (job enhancement) dengan memberikan pada komputer tugas yang berulang dan membosankan, serta memberikan pada pegawai tugas yang menantang kemampuan mereka.
Menjalin komunikasi awal untuk membuat pegawai terus menyadari maksud perusahaan. Pengumuman oleh pihak manajemen puncak pada awal tahap analisis dan penerapan dari siklus hidup sistem merupakan contoh strategi ini.
Menjalin hubungan kepercayaan antara pegawai, spesialisasi informasi dan manajemen. Hubungan tersebut tercapai dengan sikap jujur mengenai dampak-dampak dari sistem komputer dan dengan berpegang pada janji. Komunikasi formal dan penyertaan pemakai pada tim proyek mengarah pada tercapainya kepercayaan.
Menyeimbangkan kebutuhan pegawai dengan tujuan perusahaan. Pertama, identifikasi kebutuhan pegawai, kemudian memotivasi pegawai dengan menunjukkan pada mereka bahwa bekerja menuju tujuan perusahaan juga membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka.
3. Jelaskan urgensi dari aspek maintainaibility dalam pengembangan software untuk menunjang sistem informasi?
Pengembangan software dapat dimaksimalkan pada peningkatan kualitas secara internal, dari aspek Maintainability, tingkat kemudahan software untuk dimodifikasi, diperbaiki atau ditingkatkan performancenya. Dalam memelihara sistem, perancang sistem harus memperhatikan hal-hal berikut :
• Membuat kamus data standar
• Menggunakan bahasa pemrograman standar
• Meng-install arstitektur komputer standar
• Menggunakan perancangan secara modul
• Menyiapkan dokumentasi yang komprehensif, jelas dan terbaru.
Aspek maintainability dalam pengembangan software untuk menunjang sistem informasi merupakan komponen utama dari changebility, yang berhubungan dengan kemudahan dalam memodifikasi software. Kesalahan seharusnya telah diketahui terlebih dahulu sebelum perkembangan dibuat. Maka maintainability dapat dilihat sebagai changebility yang ditambah kualitas baru yaitu analysability, untuk memudahkan identifikasi kesalahan. Urgensi maintainbility dalam pengembangan software untuk menunjang sistem informasi merupakan kemampuan software tersebut untuk dapat dikoreksi, adaptasi dan diperbaiki.
4. Apa yang saudara ketahui tentang ERP (enterprise resource planning) dan bagaimana implementasi sistem informasi yang berbasiskan ERP. Jelaskan!
Sistem informasi ERP (Entreprise Resource Planning) merupakan suatu sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. Dengan diterapkannya ERP diharapkan dapat mempermudah dan meringankan pekerjaan yang harus dilakukan oleh pekerja di masing–masing PPB. Selain itu, pertukaran informasi antar anggota PPB akan menjadi lebih lancar, dan tujuan paling utama adalah untuk menaikan keuntungan PPB. Dengan adanya penyediaan jasa e-business di internet dapat mempermudah transaksi dengan pelanggan serta dapat dijadikan sebagai sarana promosi dan memperkenalkan barang dengan harga yang sama ke pada seluruh pelanggan. E-business juga terintegrasi dengan ERP untuk proses bisnis operasi, produksi maupun distribusi.
Dalam Perkembangan ERP tidak terlepas dari perkembangan rekayasa pabrikasi (manufacturing) itu sendiri. Kebutuhan akan informasi dari proses pabrikasi juga semakin banyak yang akan berguna bagi setiap pelaku dari pabrikasi baik pelaksanan maupun pengambil keputusan. Perkembangan ERP melalui tahapan yang sangat lama dengan mengembangkan dari sistem yang telah lahir sebelumnya, hal tersebut terlihat pada gambar dibawah ini.
Perkembangan Enterprise Relationship Management
Tahun 1970-an merupakan konsep awal dari ERP dengan adanya MRP (Material Requirements Planning), sistem ini meliputi perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material perusahaan. Tahun 1980-an MRP berkembang menjadi MRP II (Manufacturing Resource Planning), yang memperkenalkan konsep mengenai penyatuan kebutuhan material (MRP) dan kebutuhan sumber daya untuk proses produksi. Tahun 1990-an perkembangan ERP mulai pesat, awal dari perkembangan ERP dumulai Tahun 1972 dengan dipelopori oleh 5 karyawan IBM di Mannheim Jerman yang menciptakan SAP yang berfungsi untuk menyatukan solusi bisnis. Pada dasarnya ERP adalah penambahan module keuangan pada MRP II, sehingga lebih memudahkan bagi para pengambil keputusan menentukan keputusan-keputusannya.
Konsep ERP adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan proses setiap line dalam manajemen perusahaan secara transparansi dan memiliki akuntabilitas yang cukup tinggi. Untuk memasuki pasar internasional, ERP merupakan salah satu yang menjadi pra-syarat dasar bagi setiap perusahaan. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimana basis perekonomiannya bertumpu di bidang bisnis, maka efisiensi menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam setiap perusahaan. Dengan bantuan ERP perusahaan Pengrajin Bambu di Indonesia dapat terintegrasi pada setiap proses dalam perusahaan tersebut ke dalam suatu sistem komputerisasi. Manfaat lain dari ERP ini adalah integrasi bisnis secara keseluruhan, fleksibilitas dalam organisasi untuk bertransformasi dan meningkatkan turn-overnya, menciptakan analisa dan peningkatan kapabilitas yang lebih baik, serta penggunaan teknologi terbaru.
Pada ERP sendiri terjadi perubahan paradigma dari sistem konvensional yang serba terisolasi ke arah penggunaan information technology yang lebih terintegrasi menghasilkan aliran informasi yang lebih lancar pada level organisasional maupun departemental..
Gambar Integrasi Informasi melalui Sistem ERP
Peranan informasi sangat diperlukan, beberapa karakteristik fundamental informasi adalah akurasi (ketepatan), relevansi (kebenaran), dan avalabilitas (ketersediaan). Namun, beberapa penelitian mencatat beberapa permasalahan dengan sistem informasi manajemen konvensional, yaitu hanya menyediakan source data yang sudah ditentukan sehingga kerapkali terjadi miss-information antar departemen dan keterbatasan analisa data. Implementasi ERP ini sendiri memiliki beberapa resiko yang berkaitan dengan ukuran proyeknya, aplikasi teknologinya, struktur, stabilitas, strategi maupun penggunanya. Adapun beberapa biaya yang mungkin termasuk adalah biaya replacement yang lama ke sistem yang baru, biaya training dan peningkatan fasilitas, biaya konsultan maupun biaya tak terlihat seperti biaya depresi akibat pergantian sistem. Namun secara keseluruhan ERP memberikan manfaat yang pasti bila dalam penerapannya di dukung oleh komitmen yang tinggi dari perusahaan pengrajin bambu dan meningkatkan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikannya.
Dapat dikatakan ERP merupakan tulang punggung teknologi dari kegiatan bisnis, sebuah kerangka kerja tranksaksi keseluruhan perusahaan dengan berbagai hubungan ke pemrosesan pesanan penjualan, manajemen dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi dan distribusi, serta keuangan. Implimentasi ERP pada berbagai proses dan fungsi bisnis termasuk yang diterapkan pada perusahaan pengrajin bambu, terlihat pada gambar berikut.
Gambar Implementasi proses dan fungsi ERP
Dengan adanya penerapan ERP pada perusahaan pengrajin bambu akan memperoleh keutungan berupa perencanaan produksi, pemrosesan pesanan, manajemen persediaan, pengiriman, maupun keuangan sehingga mendukung pencapaian keberhasilan perusahaan. Kegiatan bisnis akan terintegrasi dengan software ERP dan database umum yang dipelihara oleh DBMS. Menciptakan perusahaan yang efisien, responsif serta lincah dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Pengambilan keputusan dalam penggunaan ERP sebagai solusi IT dan Internetworking mamiliki beberapa alasan yaitu:
ERP sangat dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan pengusaha dalam perencanaan produksi baik proses maupun ketersediaan bahan baku, perencanaan pesanan, lokasi pengusaha yang terletak diberbagai wilayah geografi, sehingga dengan bantuan ERP berbasis e-business hal tersebut dapat terselesaikan.
ERP dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi perusahaan karena dapat mengintegrasikan kegiatan bisnis
Dengan ERP Menurunkan biaya pemrosesan transaksi dan hardware, software, serta karyawan pendukung IT
ERP menyediakan informasi kinerja bisnis lintas fungsi yang sangat cepat sehungga mempermudah dalam pengambilan keputusan
Mengimplementasikan ERP memberikan manfaat ntuk lebih mudah dalam memanfaatkan berbagai peluang baru
Implikasi ERP pada perusahaan pengrajin bambu sangat di sesuaikan dengan keadaan perusahaan. Perencanaa maupun penerapan ERP melalui proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Penerapan tersebut tidak hanya didukung dengan ERP sebagai alat tetapi jyga didukung oleh keempat komponen teknologi yaitu humanware, technoware, organware dan infoware. Dari konsep keempat komponen tersebut maka kesuksesan dalam ERP tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
Management/organisasi; meliputi komitmen, edukasi, keterlibatan, pemilihan tim, pelatihan, serta peran dan tanggung jawab.
Proses; meliputi alignment, dokumentasi, integrasi, dan re-desain proses.
Teknologi; meliputi hardware, software, manajemen sistem, dan interface.
Data; meliputi file utama, file transaksi, struktur data, dan maintenance dan integrasi data.
Personel; meliputi edukasi, pelatihan, pengembangan skill, dan pengembangan pengetahuan.